BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sejak hadirnya manusia di dunia
sebagai mahluk bumi, sebenarnya mereka telah memiliki ilmu pengetahuan untuk
berfikir sebagai penolong hidup nya untuk bertahan dan melangsungkan
keberlanjutan generasi nya hingga hari ini.
Filsafat yaitu hasil akal seorang
manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalam nya (radic). Dengan kata lain filsafat
adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala
sesuatu.
Ontologi merupakan salah satu
kajian kefilsafatan kuno berasal dari yunani. Studi ini membahas keberadaan
sesuatu yang bersifat konkrit. Tokoh yunani yang memiliki pandangan bersifat
ontologis yaitu antara lain Thales, Plato, dan Aristoteles. [1]
B.
Rumusan Masalah
1. Apakah
definisi filsafat dan ontologis ?
2. Apakah
hakikat filsafat, filsafat ilmu dan ontologis ?
3. Bagaiaman
struktur filsafat ?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Filsafat dan
Ontologis
1. Definisi
filsafat
Filsafat
secara etimologi berasal dari bahasi yunani terbagi menjadi dua kata yaitu Filo
dan Shopia. Filo artinya cinta dan shopia artinya bijaksana.
Filsafat
secara Terminologi yaitu :
Meurut Plato Filasafat
yaitu pengetahuan tentang segala yang ada.
Menurut Aristoteles
filsafat yaitu Penyelidikan tentang asaz bbenda-benda.
Menurut Alfarabi
filsafat yaitu berfikir secara dalam tentang hakikat segala yang ada.
Filsafat
yaitu hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran
dengan sedalam-dalam nya (radic).
Dengan kata lain filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh
hakikat kebenaran segala sesuatu.
Filsafat
membahas segala sesuatu yang ada bahkan yang mungkin ada baik bersifat abstrak
ataupun riil meliputi Tuhan, manusia dan alam semesta. Sehingga untuk memahami
masalah filsafat sangatlah sulit tanpa adanya pemetaan-pemetaan dan mungkin
kita hanya bisa menguasai sebagian dari luasnya ruang lingkup filsafat.
Sistematika
filsafat secara garis besar ada tiga pembahasan pokok atau bagian yaitu;
epistemologi atau teori pengetahuan yang membahas bagaimana kita memperoleh
pengetahuan,ontologi atau teori hakikat yang membahas tentang hakikat segala
sesuatu yang melahirkan pengetahuan dan aksiologi atau teori nilai yang
membahas tentang guna pengetahuan. Mempelajari ketiga cabang tersebut sangatlah
penting dalam memahami filsafat yang begitu luas ruang lingkup dan
pembahansannya.[2]
2. Definisi
Ontologis
Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni ontos dan
logos. Ontos berarti sesuatu yang berwujud (being) dan logos berarti ilmu. Jadi
ontologi adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan
segala sesuatu yang ada menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hukum
sebab akibat yaitu ada manusia, ada alam, dan ada kausa prima dalam suatu
hubungan yang menyeluruh, teratur, dan tertib dalam keharmonisan. Ontologi
dapat pula diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada.
Obyek ilmu atau keilmuan itu adalah dunia empirik, dunia yang dapat dijangkau
pancaindera. Dengan demikian, obyek ilmu adalah pengalaman inderawi.
Dengan kata lain, ontologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan
pada logika semata. Pengertian ini didukung pula oleh pernyataan Runes bahwa
“ontology is the theory of being qua being”, artinya ontologi adalah teori
tentang wujud.
Ontologi
merupakan salah satu kajian kefilsafatan kuno berasal dari yunani. Studi ini
membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkrit. Tokoh yunani yang memiliki
pandangan bersifat ontologis yaitu antara lain Thales, Plato, dan Aristoteles.
Ontologi
membahas tentang yang ada yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu.
Ontologi membahas tentang yang ada dan membahas universal, menampilkan
pemikiran yang universal. [3]
B.
Hakikat
filsafat, Filsafat Ilmu, dan Ontologis
1.
Hakikat Filsafat
a. Pengertian Filsafat
Filsafat (terjemahan dari bhs Inggris philolophy) berasal dari bahasa Yunani, yaitu philo, philia, philein (love of ) dan Sophia atau sophos (wisdom). Oleh karena itu secara etimologis filsafat artinya cinta atau MENCINTAI akan kebajikan/kebijaksanaan (love of wisdom).
Filsafat (terjemahan dari bhs Inggris philolophy) berasal dari bahasa Yunani, yaitu philo, philia, philein (love of ) dan Sophia atau sophos (wisdom). Oleh karena itu secara etimologis filsafat artinya cinta atau MENCINTAI akan kebajikan/kebijaksanaan (love of wisdom).
Dengan demikian filsafat memiliki makna, yaitu hasrat yang menggebu atau
keinginan yang sungguh-sungguh/kemauan keras akan kebenaran sejati. Berdasarkan
arti tersebut, para ahli kemudian merumuskan arti dari filsafat itu sendiri.[4]
b. Objek Filsafat
Obyek filsafat ada dua, yaitu :
• Objek material filsafat adalah segala sesuatu yang ada, yang meliputi : ada dalam kenyataan, ada dalam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan,
• Objek formal filsafat adalah hakikat dari segala sesuatu yang ada.
Obyek filsafat ada dua, yaitu :
• Objek material filsafat adalah segala sesuatu yang ada, yang meliputi : ada dalam kenyataan, ada dalam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan,
• Objek formal filsafat adalah hakikat dari segala sesuatu yang ada.
c. Sistematika Filsafat
Sebagaimana pengetahuan yang lain, filsafat telah mengalami perkembangan yang pesat yang ditandai dengan bermacam-macam aliran dan cabang.
• Aliran-aliran Filsafat. Ada beberapa aliran filsafat dinataranya adalah : realisme ( gambaran apa adanya), rasionalisme (Akal), empirisme (logis dan empiris),
Sebagaimana pengetahuan yang lain, filsafat telah mengalami perkembangan yang pesat yang ditandai dengan bermacam-macam aliran dan cabang.
• Aliran-aliran Filsafat. Ada beberapa aliran filsafat dinataranya adalah : realisme ( gambaran apa adanya), rasionalisme (Akal), empirisme (logis dan empiris),
• Cabang-cabang Filsafat.
Filsafat memiliki cabang-cabang yang cukup banyak dinataranya adalah :
metafisika, epistemologi, logika, etika, estetika, filsafat sejarah, filsafat
politik, dst.
2.
Hakikat Filsafat Ilmu
A. Pengertian Filsafat Ilmu
Terdapat banyak definisi/pengertian mengenai filsafat ilmu misalnya:
Terdapat banyak definisi/pengertian mengenai filsafat ilmu misalnya:
- Cornelius Benjamin (dalam The Liang Gie, 19 : 58)
Filsafat ilmu merupakan cabang dari filsafat yang secara sistematis menelaah sifat dasar ilmu, khususnya mengenai metoda, konsep-konsep, dan anggapan-anggapannya.
Filsafat ilmu merupakan cabang dari filsafat yang secara sistematis menelaah sifat dasar ilmu, khususnya mengenai metoda, konsep-konsep, dan anggapan-anggapannya.
• Conny Semia wanat al (1998 : 45)
menyatakan bahwa filsafat ilmu pada dasarnya adalah ilmu yang berbicara tentang ilmu pengetahuan (science of sciences) yang kedudukannya di atas ilmu lainnya.[5]
menyatakan bahwa filsafat ilmu pada dasarnya adalah ilmu yang berbicara tentang ilmu pengetahuan (science of sciences) yang kedudukannya di atas ilmu lainnya.[5]
B. Manfaat Mempelajari filsafat ilmu
• Dengan mempelajari filsafat ilmu diharapkan mahasiswa semakin kritis dalam sikap ilmiahnya. Mahasiswa sebagai insan kampus diharapkan untuk bersikap kritis terhadap berbagai macam teori yang dipelajarinya di ruang kuliah maupun dari sumber-sumber lainnya.
• Mempelajari filsafat ilmu mendatangkan kegunaan bagi para mahasiswa sebagai calon ilmuwan untuk mendalami metode ilmiah dan untuk melakukan penelitian ilmiah. Dengan mempelajari filsafat ilmu diharapkan mereka memiliki pemahaman yang utuh mengenai ilmu dan mampu menggunakan pengetahuan tersebut sebagai landasan dalam proses pembelajaran dan penelitian ilmiah.
• Mempelajari filsafat ilmu memiliki manfaat praktis. Setelah mahasiswa lulus dan bekerja mereka pasti berhadapan dengan berbagai masalah dalam pekerjaannya. Untuk memecahkan masalah diperlukan kemampuan dan kedalaman berpikir kritis dalam menganalisis berbagai hal yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi. Dalam konteks inilah pengalaman mempelajari filsafat ilmu diterapkan.
• Dengan mempelajari filsafat ilmu diharapkan mahasiswa semakin kritis dalam sikap ilmiahnya. Mahasiswa sebagai insan kampus diharapkan untuk bersikap kritis terhadap berbagai macam teori yang dipelajarinya di ruang kuliah maupun dari sumber-sumber lainnya.
• Mempelajari filsafat ilmu mendatangkan kegunaan bagi para mahasiswa sebagai calon ilmuwan untuk mendalami metode ilmiah dan untuk melakukan penelitian ilmiah. Dengan mempelajari filsafat ilmu diharapkan mereka memiliki pemahaman yang utuh mengenai ilmu dan mampu menggunakan pengetahuan tersebut sebagai landasan dalam proses pembelajaran dan penelitian ilmiah.
• Mempelajari filsafat ilmu memiliki manfaat praktis. Setelah mahasiswa lulus dan bekerja mereka pasti berhadapan dengan berbagai masalah dalam pekerjaannya. Untuk memecahkan masalah diperlukan kemampuan dan kedalaman berpikir kritis dalam menganalisis berbagai hal yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi. Dalam konteks inilah pengalaman mempelajari filsafat ilmu diterapkan.
3.
Hakikat Ontologis
Ontologi merupakan pembahasan tentang
bagaimana cara memandang hakekat sesuatu, apakah dipahami sebagai sesuatu yang
tunggal dan bisa dipisah dari sesuatu yang lain atau bernuansa jamak, terikat
dengan sesuatu yang lain, sehingga harus dipahami sebagai suatu kebulatan
(holistik). Pengertian paling umum pada ontologi
adalah bagian dari bidang filsafat yang mencoba mencari hakikat dari sesuatu.
Sebuah ontologi memberikan pengertian untuk penjelasan secara eksplisit dari
konsep terhadap representasi pengetahuan pada sebuah knowledge base.
Sebuah
ontologi juga dapat diartikan sebuah struktur hirarki dari istilah untuk
menjelaskan sebuah domain yang dapat digunakan sebagai landasan untuk sebuah
knowledge base”. Dengan demikian, ontologi merupakan suatu teori tentang makna
dari suatu objek, property dari suatu objek, serta relasi objek tersebut yang
mungkin terjadi pada suatu domain pengetahuan. Ringkasnya, pada tinjauan
filsafat, ontologi adalah studi tentang sesuatu yang ada. Hakekat kenyataan atau
realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang: [6]
a.
Kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal
atau jamak?
b. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah
kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun
yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum. Secara sederhana
ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan
konkret secara kritis.
C. Struktur filsafat
Pada pokoknya struktur filsafat
berkisar pada tiga cabang:
·
Teori Pengetahuan
·
Teori Hakikat
·
Teori Nilai
1.
Teori Pengetahuan
Cabang filsafat yang membahas norma-norma atau teori tentang cara mendapatkan pengetahuan dan membicarakan pula tentang bagaimana cara mengatur pengetahuan itu sehingga menjadi pengetahuan yang benar dan berarti. posisi terpenting dan terutama dari teori pengetahuan adalah membicarakan apa sebenarnya hakikat pengetahuan itu, cara berpikir dan hukum berpikir mana yang harus dipergunakan agar kita mendapat pemikiran yang kemungkinan benarnya paling besar.
Ada dua cabang yang akan membahasnya:
Cabang filsafat yang membahas norma-norma atau teori tentang cara mendapatkan pengetahuan dan membicarakan pula tentang bagaimana cara mengatur pengetahuan itu sehingga menjadi pengetahuan yang benar dan berarti. posisi terpenting dan terutama dari teori pengetahuan adalah membicarakan apa sebenarnya hakikat pengetahuan itu, cara berpikir dan hukum berpikir mana yang harus dipergunakan agar kita mendapat pemikiran yang kemungkinan benarnya paling besar.
Ada dua cabang yang akan membahasnya:
·
Epistemologi
·
Logika
a.
Epistemologi
Epistemologi
berasal dari bahasa Yunani, episteme yang berarti knowledge atau
pengetahuan dan logy berarti teori. Epistemologi dapat diartikan sebagai
teori pengetahuan, atau filsafat ilmu.
b.
Logika
Logika berasal
dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal
pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah
salah satu cabang filsafat.
Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.[7]
Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.[7]
Dasar-dasar Logika
Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya.
Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya.
Dalam hal
ini logika menjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara
kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis).
Dasar
penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan induktif:
Penalaran deduktif kadang disebut logika deduktif adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif. Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis ‑ premisnya. Penalaran induktif kadang disebut logika induktif adalah penal-aran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.
Penalaran deduktif kadang disebut logika deduktif adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif. Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis ‑ premisnya. Penalaran induktif kadang disebut logika induktif adalah penal-aran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.
2. Teori Hakikat
Hakikat artinya keadaan yang sebenarnya. Hakikat sebenarnya adalah keadaan sebenarnya dari sesuatu itu. Teori hakikat merupakan cabang filsafat yang membicarakan hakikat sesuatu.
Hakikat artinya keadaan yang sebenarnya. Hakikat sebenarnya adalah keadaan sebenarnya dari sesuatu itu. Teori hakikat merupakan cabang filsafat yang membicarakan hakikat sesuatu.
3.
Teori Nilai
a.
Etika
Etika adalah
cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi
mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan
konsep seperti
benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.
Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia.
Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia.
b.
Estetika
Estetika
adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana, estetika adalah ilmu yang
membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya.
Perkembangan
lebih lanjut menyadarkan bahwa keindahan tidak selalu memiliki rumusan
tertentu. Ia berkembang sesuai penerimaan masyarakat terhadap ide yang dimunculkan
oleh pembuat karya. [8]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Filsafat
secara etimologi berasal dari bahasi yunani terbagi menjadi dua kata yaitu Filo
dan Shopia. Filo artinya cinta dan shopia artinya bijaksana.
Filsafat
secara Terminologi yaitu :
Meurut Plato Filasafat
yaitu pengetahuan tentang segala yang ada.
Menurut Aristoteles
filsafat yaitu Penyelidikan tentang asaz bbenda-benda.
ontologi adalah bidang pokok filsafat yang
mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada menurut tata hubungan
sistematis berdasarkan hukum sebab akibat yaitu ada manusia, ada alam, dan ada
kausa prima dalam suatu hubungan yang menyeluruh, teratur, dan tertib dalam
keharmonisan.
Ontologi dapat pula diartikan sebagai ilmu atau teori
tentang wujud hakikat yang ada. Obyek ilmu atau keilmuan itu adalah dunia
empirik, dunia yang dapat dijangkau pancaindera. Dengan demikian, obyek ilmu
adalah pengalaman inderawi.
[1] Maksum
Ali, Pengantar Filsafat. Yogyakarta
[2] Mukhtar Latif, Orientasi kearah pemahaman filsafat ilmu. Jakarta: hlm 43
[3] Ibid. Hlm 78
[4] Saebani Ahmad. Filsafat Ilmu. Bandung: hlm 17
[5] Ibid hlm 99
[6]
https://www.tongkronganislami.net/contoh-makalah-ontologi-filsafat-ilmu/
[7] Mukhtar Latif, Orientasi kearah pemahaman filsafat ilmu. Jakarta: hlm 265
Komentar
Posting Komentar